LOMBA KARYA CIPTA LAGU (LKCL)

Pagi…

Dipublikasi di anak remaja, menyanyi, SMAN 1 MAKALE | Tag , | Meninggalkan komentar

10 penyanyi bersuara nada tertinggi di dunia

Mungkin banyak penyany di dunia ini yang suara2nya d tergolong suara merdu..
Akan tetapi suara merdu belum tentu suara yang bernada tinggi,
Pada tulisan kali ini saya akan membahas 10 penyanyi-penyanyi bersuara tinggi versi saya dan versi ON THE SPOT yg baru-baru saya lihat.

FYI : tulisan ini saya buat sekitar tahun 2011 😀
berikut urutannya :
10. CELINE DIOn (3 oktaf)

Suara tertingginya terlihat pada lagunya yang sangat populer yaitu MY HEART WILL GO ON yg menjadi soundtrack film titanic…
9. TONI BRAXTON (3 oktaf 2 nada)
Penyanyi satu ini adlah penyanyi yg tergolong penyanyi bersuara berat yg dikategorikan penyanyi bersuara alto. Nada tertinggi yg pernah dinyanyikan terlihat dalam lagunya yg cukup trkenal yaitu UNBREAK Y HEART

8. NICOLE SCHERZINGER (3 oktaf 3 stengah nada)
Nada tertinggi yagn mencapai 3,5 oktaf terlihat pada lagunya di HELPY NEVER. Dan yg membuat saya kagum dengan nicole adalah kemampuan bernafasnya dlam menyanyi yg mencapai 18 detik.
7. BEYONCE KNOWLES (3 oktaf 4 nada) 
Siapa yang tidak kenal dng penanyi ini, dengan tembang lagunya berjudul STAND UP FOR LOVE dan suara yg menncapai 3 oktaf 4 nada membuat org menjadi kagum padanya.
6. CHRISTINA AGUILERA (3 oktaf 5 nada)
Penggemar kangen band pasti kenal wanita ini dong????/ kok bisa,,,, yaiyalah bisa krn slah satu lagu kangen yg judulnya JUMINTEN terdapat nama CHRISTINA AGUILERA. Dengarkanlah lagu christina yg bjuduknya BEAUTIFUL.
5. MARIA CAREY (5 OKTAF) 
Kaget ya krn maria hanya diposisi ini,, pasti banyak yg mengidolakan ini, tp nyatanya maria hanya mampu bernyanyi sampai 5 oktaf saja, suara tingginya terlihat pada lagunya yg berjudul O HOLY NIGHT dan DREAM LOVER.
4. WHITNEY HOUSTON (5 OKTAF)
Whitney hanya mampu Sampai di posisi ke,, tapi nada tertinggi sma dengan maria yaiut 5 oktaf… alasan saya whitney di atas mariah karna pda saat bersamaan di 5 oktaf. Artikulasi whiney lebih jelas terdengar dari pada mariah..
3. MINNIE RIPERTON ( 5 stengah oktaf atau 5 oktaf 3 stengah nada)
Lagu yg paling populer dari minnie adlah LOVING. berbeda dengan penyanyi sebelumnya yg ada diposisi di atasnya. MINNIE dapat mencapai 3 oktaf atau bhkan hampir 4 oktaf dengan menyanyi menggunakan lirik. Tdak seperti penyanyi lainnya yg hanya mampu bernyanyi smpai 2 oktaf dng lirik. Seperti mariah dan diva lainnya,dan nada yg tinggi lain dinyanyikan dengan cmenggunakan teknik falseto.
2. ADAM LOPEZ (6 OKTAF)
Siapa sangka kalau posisi kedua ditempati oleh penyanyi lakai asal australia yaitu adam lopez. Yg kemampuan bernyanyinya sampai di 6 oktaf… LOPEZ prnah mendftarkan diri di GUENNIES WORLD RECORDS. Dan mampu dijuluki manusia bersuara tinggi. Pd waktu menyanyi bernada tinggi, suara LOPEZ terdengar seperti percakapan ikan PAUS.
1. GEORGIA BROWN (8 oktaf)
Dan penyanyi bersuara tinggi sampai saat ini dipegang oleh GEORGIA dari italia, yg mamu menyanyi sampai 8 oktaf. GEORGIA mendftarkan diri pada GUENNIES WORLD RECORDS dan mengalahkan adam pemegang record sebelumnya.
Bagaimana dengan di indonesia???? Siapa yg mampu menyanyi bernada tinggi??
i think, singer with high notes ini Indonesian are Anggun and Agnes Monika. They are so amazing singer. bangga punya mereka

Dipublikasi di menyanyi, pendidikan | Tag | 25 Komentar

jenis-jenis majas atau gaya bahasa versi lengkap

Majasperbandingan Artikel utama untuk bagian ini adalah: Majas perbandingan
1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.
Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing- tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketikabertemu dengan laut.
2. Alusio: Pemakaianungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah
dikenal. Contoh:
Sudah dua hari ia
tidak terlihat
batang hidungnya.
3. Simile:
Pengungkapan
dengan
perbandingan
eksplisit yang
dinyatakan
dengan kata
depan dan
penghubung,
seperti layaknya,
bagaikan, ”
umpama”,
“ibarat”,”bak”,
bagai”. contoh: Kau
umpama air aku
bagai minyaknya,
bagaikan Qais dan
Laila yang
dimabuk cinta
berkorban apa
saja.
4. Metafora:
Pengungkapan
berupa
perbandingan
analogis dengan
menghilangkan
kata seperti
layaknya,
bagaikan, dll.
contoh:
Waspadalah
terhadap lintah
darat
5. Antropomorfisme:
Metafora yang
menggunakan
kata atau bentuk
lain yang
berhubungan
dengan manusia
untuk hal yang
bukan manusia.
6. Sinestesia: Majas
yang berupa
suatu ungkapan
rasa dari suatu
indra yang
dicurahkan lewat
ungkapan rasa
indra lainnya.
7. Antonomasia:
Penggunaan sifat
sebagai nama diri
atau nama diri lain
sebagai nama
jenis.
8. Aptronim:
Pemberian nama
yang cocok
dengan sifat atau
pekerjaan orang.
9. Metonimia:
Pengungkapan
berupa
penggunaan nama
untuk benda lain
yang menjadi
merek, ciri khas,
atau atribut.
10. Hipokorisme:
Penggunaan nama
timangan atau
kata yang dipakai
untuk
menunjukkan
hubungan karib.
11. Litotes: Ungkapan
berupa penurunan
kualitas suatu
fakta dengan
tujuan
merendahkan diri.
12. Hiperbola:
Pengungkapan
yang melebih-
lebihkan
kenyataan
sehingga
kenyataan
tersebut menjadi
tidak masuk akal.
13. Personifikasi:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
perilaku manusia
yang diberikan
kepada sesuatu
yang bukan
manusia.
14. Depersonifikasi:
Pengungkapan
dengan tidak
menjadikan
benda-benda mati
atau tidak
bernyawa.
15. Pars pro toto:
Pengungkapan
sebagian dari
objek untuk
menunjukkan
keseluruhan objek.
16. Totum pro parte:
Pengungkapan
keseluruhan objek
padahal yang
dimaksud hanya
sebagian.
17. Eufimisme:
Pengungkapan
kata-kata yang
dipandang tabu
atau dirasa kasar
dengan kata-kata
lain yang lebih
pantas atau
dianggap halus.
18. Disfemisme:
Pengungkapan
pernyataan tabu
atau yang dirasa
kurang pantas
sebagaimana
adanya.
19. Fabel: Menyatakan
perilaku binatang
sebagai manusia
yang dapat
berpikir dan
bertutur kata.
20. Parabel: Ungkapan
pelajaran atau nilai
tetapi dikiaskan
atau disamarkan
dalam cerita.
21. Perifrasa:
Ungkapan yang
panjang sebagai
pengganti
ungkapan yang
lebih pendek.
22. Eponim:
Menjadikan nama
orang sebagai
tempat atau
pranata.
23. Simbolik:
Melukiskan
sesuatu dengan
menggunakan
simbol atau
lambang untuk
menyatakan
maksud.
24. Asosiasi:
perbandingan
terhadap dua hal
yang berbeda,
namun dinyatakan
sama.
Majas sindiran
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas sindiran
1. Ironi: Sindiran
dengan
menyembunyikan
fakta yang
sebenarnya dan
mengatakan
kebalikan dari
fakta tersebut.
2. Sarkasme:
Sindiran langsung
dan kasar.
3. Sinisme: Ungkapan
yang bersifat
mencemooh
pikiran atau ide
bahwa kebaikan
terdapat pada
manusia (lebih
kasar dari ironi).
4. Satire: Ungkapan
yang
menggunakan
sarkasme, ironi,
atau parodi, untuk
mengecam atau
menertawakan
gagasan,
kebiasaan, dll.
5. Innuendo: Sindiran
yang bersifat
mengecilkan fakta
sesungguhnya.
Majas penegasan
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas
penegasan
1. Apofasis:
Penegasan
dengan cara
seolah-olah
menyangkal yang
ditegaskan.
2. Pleonasme:
Menambahkan
keterangan pada
pernyataan yang
sudah jelas atau
menambahkan
keterangan yang
sebenarnya tidak
diperlukan.
3. Repetisi:
Perulangan kata,
frasa, dan klausa
yang sama dalam
suatu kalimat.
4. Pararima:
Pengulangan
konsonan awal
dan akhir dalam
kata atau bagian
kata yang
berlainan.
5. Aliterasi: Repetisi
konsonan pada
awal kata secara
berurutan.
6. Paralelisme:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
kata, frasa, atau
klausa yang
sejajar.
7. Tautologi:
Pengulangan kata
dengan
menggunakan
sinonimnya.
8. Sigmatisme:
Pengulangan bunyi
“s” untuk efek
tertentu.
9. Antanaklasis:
Menggunakan
perulangan kata
yang sama, tetapi
dengan makna
yang berlainan.
10. Klimaks:
Pemaparan pikiran
atau hal secara
berturut-turut
dari yang
sederhana/kurang
penting
meningkat kepada
hal yang
kompleks/lebih
penting.
11. Antiklimaks:
Pemaparan pikiran
atau hal secara
berturut-turut
dari yang
kompleks/lebih
penting menurun
kepada hal yang
sederhana/kurang
penting.
12. Inversi:
Menyebutkan
terlebih dahulu
predikat dalam
suatu kalimat
sebelum
subjeknya.
13. Retoris: Ungkapan
pertanyaan yang
jawabannya telah
terkandung di
dalam pertanyaan
tersebut.
14. Elipsis:
Penghilangan satu
atau beberapa
unsur kalimat,
yang dalam
susunan normal
unsur tersebut
seharusnya ada.
15. Koreksio:
Ungkapan dengan
menyebutkan hal-
hal yang dianggap
keliru atau kurang
tepat, kemudian
disebutkan
maksud yang
sesungguhnya.
16. Polisindenton:
Pengungkapan
suatu kalimat
atau wacana,
dihubungkan
dengan kata
penghubung.
17. Asindeton:
Pengungkapan
suatu kalimat
atau wacana
tanpa kata
penghubung.
18. Interupsi:
Ungkapan berupa
penyisipan
keterangan
tambahan di
antara unsur-
unsur kalimat.
19. Ekskalamasio:
Ungkapan dengan
menggunakan
kata-kata seru.
20. Enumerasio:
Ungkapan
penegasan berupa
penguraian bagian
demi bagian suatu
keseluruhan.
21. Preterito:
Ungkapan
penegasan
dengan cara
menyembunyikan
maksud yang
sebenarnya.
22. Alonim:
Penggunaan
varian dari nama
untuk
menegaskan.
23. Kolokasi: Asosiasi
tetap antara
suatu kata
dengan kata lain
yang
berdampingan
dalam kalimat.
24. Silepsis:
Penggunaan satu
kata yang
mempunyai lebih
dari satu makna
dan yang
berfungsi dalam
lebih dari satu
konstruksi
sintaksis.
25. Zeugma: Silepsi
dengan
menggunakan
kata yang tidak
logis dan tidak
gramatis untuk
konstruksi
sintaksis yang
kedua, sehingga
menjadi kalimat
yang rancu.
Majas
pertentangan
Artikel utama
untuk bagian ini
adalah: Majas
pertentangan
1. Paradoks:
Pengungkapan
dengan
menyatakan dua
hal yang seolah-
olah
bertentangan,
namun
sebenarnya
keduanya benar.
2. Oksimoron:
Paradoks dalam
satu frasa.
3. Antitesis:
Pengungkapan
dengan
menggunakan
kata-kata yang
berlawanan arti
satu dengan yang
lainnya.
4. Kontradiksi
interminus :
Pernyataan yang
bersifat
menyangkal yang
telah disebutkan
pada bagian
sebelumnya.
5. Anakronisme:
Ungkapan yang
mengandung
ketidaksesuaian
dengan antara
peristiwa dengan
waktunya.

Dipublikasi di pendidikan, puisi | Tag , | 4 Komentar

sejarah singkat gereja toraja

gerejGEREJA TORAJA adalah hasil kegiatan pekabaran injil misionaris Perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd (Gereformeerde Zendingsbond-
GZB). Pdt. A.A. van de Loosdrecht menjadi misionaris pertama yang tiba di Rantepao pada 7 November 1913. Namun, tragis kehidupannya karena Ia terbunuh
di tempat itu. Injil berkembang pesat hingga tahun 1938 telah terdapat 14.000 orang Kristen dari 300.000 penduduk Toraja . Pada 25 Maret 1947, jemaat-jemaat sepakat
membentuk suatu organisasi gereja yang bernama Gereja Toraja dalam sidang Majelis Am yang pertama di Rantepao. Gereja ini menjadi anggota PGI pada tahun 1950. Misi Gereja Toraja adalah bersekutu, bersaksi, dan melayani yang dijabarkan dalam berbagai bentuk pelayanan gerejawi. Gereja ini berbentuk PresbiterialSinoda yang berarti pengaturan tata hidup dan pelayana gereja yang dilaksanakan oleh para presbiteroi(penatua, pendeta, dan diaken) dalam suatu jemaat dengan keterikatan dan ketaataan dalam lingkup yang lebih luas(klasis dan sinode).

Pada masa pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar , banyak anggota jemaat Gereja Toraja yang terbunuh. Menurut data Tahun 2000, anggota jemaatnya sebanyak 375.000 orang. Kantor Pusat Gereja Toraja terletak di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Gereja Toraja juga tersebar di luar Toraja, seperti Makassar, Palu, Surabaya, Jakarta, dan kota lainnya.

Penjelasan Logo Gereja Toraja Logo Gereja Toraja dengan Ayat 1 Kor.3:11 merupakan dasar perkembangan Gereja Toraja dimana Alkitab dan Yesus adalah Pedoman Tunggal didalam Perkembangan dan Pelayanan Gereja Toraja.
Sumber: Wikipedia

Dipublikasi di gereja, toraja | Tag | 4 Komentar

DAFTAR SISWA SISWI SMAN 1 MAKALE Angkatan 2014

Berikut adalah daftar siswa yag telah diterima di sman 1 makale tahun 2011 termasuk saya Novrendi

avogadro

Foto di atas adalah foto pertama kali kami ikut MOS, dan ini kelompok 6

173 244 Novianto Wono Saputra
2 239 141 Widyaningsih Bungin Sura’
3 010 061 Jans Goldman Wattimena
4 232 152 Hesti Patandung
5 242 147 Jean Veronika Allo Bunga’
6 007 245 Hizkia Lumme
7 243 146 Fortuna Utami Putri
8 395 432 Willy Ekaputra Tonglo
9 159 268 Riza Fennisya
10 123 120 Constine Anta Mappadang
11 362 045 Fitha Febrilia Ruli
12 238 142 Indria Detari Solli Popang
13 241 148 Winner Satri Pagayang
14 149 290 Ayu Ekaputri Pabanga
15 234 143 Sry Hartika Lolang
16 236 151 Virginia Patiallo
17 237 144 Try Wiynda Tipa
18 024 039 Natanael
19 152 123 Sintya Fabiola
20 363 044 Erwinda Gracya Laman
21 292 402 Rohalya Melcy Patandean
22 404 406 Dwi Eva Octaviani
Batupadang
23 192 227 Monalisa Pasalli
24 233 150 Rasmayani Oktavia L
25 246 134 Cindy Yunita Sumule
26 240 145 Febriani Palallo
27 153 124 Yenni Adriani
28 247 135 Cindy Ayu Randabunga P
29 201 221 Novreska Kresteallo
30 131 075 Nolis Sima
31 191 211 Junianti Tarukallo
32 348 396 Harun Alfa Pangloli
33 235 149 Resky Biola Tolongan
34 144 292 Widi Tonapa
35 248 136 Devy Srinervy
36 245 133 Laura Marian Datu
37 250 062 Zeth Daning
38 384 374 Tirza Tirsyayu
39 139 164 Habryantho Kala’ Padang
40 143 293 Sugianto Marda Sakti
41 175 220 Rheaz Pranama Pali’
42 186 094 Seli
43 355 013 Brigita Dewi Kendek Allo
44 219 090 Ayu Anggraine Mulia T
45 133 332 Giwang Dewi Lelepadang
46 286 357 Yultianti Pakau
47 132 023 Hendriana Rini
Randabunga
48 278 323 Grace Primayanti
49 279 327 Oktaviana Depe’. T
50 166 029 wilma Dian Ardiyanti
51 316 129 Putri Yusril Banten
52 125 119 Merlin
53 134 002 Dyhonest Pigeon Fortune
54 013 362 Friska Soraya Lisu Pamasi
55 230 251 Virginia Felicia Pemba
56 172 309 Daegal Fedora patasik
57 244 132 Mika Afsari
58 039 074 Treatment M. Kabanga’
59 393 395 Muhram Muis
60 187 101 Trisnawingki Kiki
61 303 115 Arland Michel Yudistira T.
62 185 264 Juwinda Indriyani
63 229 140 Wini Sukoyo
64 295 272 Marlina Seno Linggi’
65 148 289 Reskyaningsih Parintak
66 202 243 Medi Harianto Matana
67 249 138 Grace Maya Panggau
68 305 112 Abdi Santoso
69 033 067 Ferli Batoran
70 140 005 Yusuf Rombe
71 156 399 Mario Goretti Tibarrang
72 329 331 Vidya Alexandra Pertiwi
73 365 043 Dwi Wahyuni Mareza
74 124 431 Widiyana Samuel Paranna’
75 301 254 Eka Shelcilia Ningsi
76 221 137 Eunike Pakiding
77 082 082 Yolanda Fatima Tandi Payung
78 042 165 Anata Tumonglo
79 333 172 Dorce Limbong Allo
80 158 222 Titiyanti Rantepasang
81 313 269 Christian Londong
82 223 315 Doris Natalia
83 037 195 Jesica Amping Rundupadang
84 006 252 Wiwin Sri Ayu Toding
85 147 294 Sujono Gonggang Pararuk
86 275 379 Pramitha Yemima Boroallo
87 300 440 Yoshepine Tandi Ruang
88 281 415 Srimulyani Indrawati
89 182 166 Istinnike Magu’ga’
90 119 073 Febri Fitriani
91 330 175 Dwi Mindri Manda’
92 288 193 Friskila Yulivia Geofannie
93 150 291 Dea Angeline Pasola
94 120 346 Agustina Panggalo
95 311 302 Iin Indah palupi
96 052 082 Olivia
97 038 128 Marni Sampe Galugu
98 222 107 Zulfikar Abdul Rahman S
99 114 131 Anthonius Tandiongan
100 261 216 Asmo Dewi Purwanti
101 196 286 Devie Vijayanti Beddu Syam
102 399 450 Fristhin Ahyuni
103 357 230 Haniko Sampe
104 270 056 Abdul Ghohar Tungkagi
105 225 191 Indra Setiawan
106 370 034 Resky Ammai
107 043 155 Benyamin
108 065 121 Avira Andriani Amiluddin
109 017 343 Daygift Papalangi’
110 155 127 Srisetyawanie Bandaso’
111 057 224 Oktaviani Pindan Manggasa’
112 208 041 Della Delfia Mandia
113 212 196 Yodi Anta Pong Masangka
114 193 276 Christhofel Adeng
115 097 299 Angela Pauwang Sonda
116 053 228 Indri Dwi Putri Sepyani
117 220 092 Yanti Lambe’ Palinggi’
118 291 361 Grace Dana
119 369 377 Brigita Agnes
120 218 017 Geovani Cindy W
121 207 038 Risca Pratisca
122 145 295 Leibniz Rombetasik
123 110 208 Wisdaniyanti Timbang B.
124 331 020 Nugraheni Bomba
125 027 009 Crycencya Angela
126 211 363 Ruslianto Sumule P
127 047 006 Fitrah Andini
128 061 052 Noralisa Umar
129 168 168 Herwina Rahayu Putri
130 026 088 Ivonia Rangga Datu
131 085 236 Gamaliel Adrianto
132 002 004 Valentine Rangga Patoding
133 227 110 Michael C Ubro
134 074 259 Harwandry Salurante
135 231 255 Unthari Putri
136 141 188 Noven Pasassa’
137 046 202 Ilda Olivia Pratiwi
138 126 266 Chrisma
139 093 083 Rini
140 167 024 Febrianti Tarru’ Padang
141 272 303 Selpi Paundanan
142 217 016 Eramayanti Desi Toyang S
143 094 213 Valerie Elma Tappi
144 069 411 Karni Patandean
145 198 106 Aurelius Andi Lolo
146 367 047 Peggi Grace Sumule
147 030 205 Veni Lestari
148 359 369 Agnes Dwi Batara
149 127 265 Siti Hartina Datan
150 352 103 Afbners Allstiaand Widhyartoh
151 058 419 Sapriani Wijayanti
152 374 413 Frilia Kilala Mangiwa
153 372 339 Orpa Limbong Sarira
154 271 306 Vila
155 307 390 Yosafat Saputra
156 378 337 Yostin Sari Kadang
157 032 158 Baptista Rian Pasangin
158 265 423 Sriwanti Patandean
159 268 170 Defrianto Ta’dungan
160 320 405 Agrifa Six Gloria
161 054 257 Abigael Burgan Runtung
162 345 442 Wynaldo Adithias Aries
163 151 118 Asrina layuk
164 200 163 Try Resqiyanto
165 106 179 Tessa Julita Marrung
166 385 197 Muhammad Idham F.
167 130 187 Vikalis Devaski Rante L.
168 111 206 Chenni Leus Sampe
169 090 280 Yunita Pamarruan
170 068 076 Maria Alfrida Ningsih Borong
171 059 260 Kartika Taruk Lembang
172 136 348 Puspita Warsi Tandungan
173 228 162 Jefrianto Mambua
174 226 250 Afriska Johan
175 197 359 Lidwinda Satoding
176 164 027 Winny Cristy Anneke
177 067 233 Virgilia Charal Pongtuluran
178 160 028 Griya Clara Kaparang
179 142 296 Eko Batara Bongga
180 034 068 Serli Batoran
181 259 100 Ribka Rombe Romon
182 383 375 Kevin Cristian Batara R.
183 260 097 Veronika Rammang
184 336 015 Jerni P. Saribunga
185 341 099 Deonicius Parinto Galla
186 019 360 Orinapa Remak
187 277 229 Novrendi
188 332 226 Maria Fransisca Ignasia
189 371 376 Pebriani
190 129 032 Oktaviani Sulu’ Padang
191 289 392 Asmarani Tasik Ma’dika
192 041 157 Rifaldi Lallo Saruran
193 112 258 Viesta Kartini Patandung
194 138 263 Allan Putrawan Banne
195 184 168 Krista Yunita Sonda
196 015 318 Silvanus Satno Nugraha
197 011 139 Ardi Pasongli’
198 083 218 Nova Bumbungan
199 036 036 Karmila Fitriani
200 071 109 Brian Oswaldus Paretta
201 163 026 Merianti Tandiontong
202 280 328 Rathu Rotheniaz Pailang
203 113 223 Filadelfia Simon Dingin
204 315 270 Widianto Rante Lembang
205 099 267 Angelia Pauwang Sonda
206 035 069 Yayuk Allo Manaman
207 411 382 Valentina Saman Larawati S.B
208 334 446 Edgard Londong Allo
209 029 324 Krista Desvita Bakko’
210 146 352 Abdul Karim Djafar
211 021 312 Muhammad Yusuf
212 319 237 Yoel Payung Allo
213 255 253 Richard Willyam
214 194 256 Heriwanti Pasalli’
215 031 277 Trisno Anugrah Tallulembang
216 327 340 Mislianti Lolok
217 203 278 Dean Triputra Embongbulan
218 102 102 Indra OktapianbSandatoding
219 177 180 Sriwityani Dharma Sannang
220 161 021 Yovita Valentin Tandililing
221 005 253 Rara’ Hillary Manggalatung
222 263 063 Elia Eko Prasetyo Potte
223 089 034 Kornelia Pakiding
224 098 181 Amelinda Claudia Puspita
225 216 334 Wahyu Setiawan Sosang R
226 096 209 Novita Datu
227 258 217 Depniel Pragustus
228 323 365 Rusni Bongga Mangesa’
229 062 054 Raweati
230 109 273 Dewiyani Regina
231 044 160 Nobertus Israel Sinambela
232 358 369 Meggyarti Parinding
233 195 241 Asri Kurnia Randa
234 020 201 Dwi Indah Pertiwi
235 084 178 Debi Sampe Liku
236 183 185 Wira Tondok
237 179 190 Virga Kalemben
238 257 066 Windi Prenita Parerungan
239 343 441 Yisreel Adial Reski
240 105 186 Eunike Norinda Thana
241 256 064 Firgilius Irvan Paramban
242 045 153 Muh. Ichsan Mappasanda
243 267 169 Ezra Palallung
244 298 240 Daniel Anggo’ Pata’dungan
245 302 288 Angelin Tangibali
246 342 001 Yunis Biring Allo
247 070 079 Kristiawan Londongallo
248 276 091 Oktaviani Risa Ribak
249 204 248 Yopi Turandan
250 107 284 Indryanti Karapa Palungan
251 048 200 Cici Melati Sukma
252 354 104 Aras Naftali B.Rante Masak
253 360 444 Aryananda da Vega
254 064 050 Agnes Dwi Setyaningrum S.
255 299 239 Alfried Pakonglean
256 318 238 Martino Patoding
257 100 426 Fenji Yohan Darmadi
258 008 007 Muh. Suwahyu Dian N.
259 077 366 Imrana
260 162 283 Jatrisnawaty Tandililing
261 028 087 Skhario Sewalangi
262 254 116 Alexsander Eppang
263 214 304 Juniarti Patintingan
264 091 282 Ruth Mangguali P.
265 273 301 Seprianto
266 075 077 Hensa Gaber
267 178 156 Leo Hikar Sonta
268 012 297 Yousantho Nono
269 188 215 Nella Ariesty Paseru
270 353 105 Adhel Weisto Turupadang
271 088 183 Berthin Nipa
272 400 300 Bayu Wiranto Hariatma
273 171 246 Eko Satrio
274 347 333 Leo Rampan
275 022 058 Asry Rezky
276 009 072 Ade Sulian
277 328 177 Rosika Devi Paliling
278 392 386 Jeliani De’de
279 154 126 Tri Wulandari
280 023 059 Sitti Hardianti Suaib
281 103 184 Gheby Vhirunike Sirenden
282 165 025 Tita Arika Palan
283 055 055 Kurniawati Baharuddin
284 092 086 Jezica Kerta Pongmasarrang
285 284 174 Ratna Sapila
286 073 089 Munawar Baddu
287 253 96 Margaretha Rindingpadang
288 116 274 Selpiyanti Pabannu’
289 170 249 Nardus Pasalli’
290 050 057 Hastuti Diansa
291  135 212 Rika Afrianty

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 4 Komentar

Lagu Mars SMAN 1 MAKALE (SMA Negeri 1 Tana Toraja)

MARS SMA NEGERI 1 MAKALE
ayat 1 :
Satukan derap langkah untuk
berkarya
di SMA Negeri 1 Makale
Tempat menimba Ilmu dan
ketrampilan
IPTEK dan SENI demi masa depan
ayat 2:
Tingkatkan iman , etika dan prestasi
Bangkitkan semangat jiwa ‘tuk
mengabdi
Berdasarkan Pancasila Azas kita
Berkarya , berbakti bagi NEGARA
Refrein:
Cerdaskan emosi jiwamu
Cerdaskan akal pikiranmu
Berbudi pekerti yang luhur
Semoga Tuhan lindungi kita semua
(Ulangi dari ayat 2 sampai ..berbakti bagi Negara)
Coda:
Berkarya berbakti bagi Negara
Majulah……… Jayalah………. SMANSA

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 2 Komentar

film warkop paling lucu dan seru

10 Film WARKOP Terbaik
Sepanjang Sejarah
10. Pokoknya Beres (1983)
, Sutradara: Arizal
9. CHIPS-Cara Hebat Ikut
Penanggulangan Masalah
Sosial
(1983), Sutradara: Iksan
Lahardi.
8. Manusia 6000000
Dollar (1981), Sutradara: Ali
Shahab.
7. Sama Juga Bohong
(1986), Sutradara: Chaerul
Umam.
6. Maju Kena Mundur
Kena (1983), Sutradara:
Arizal.
5. Setan Kredit (1982),
Sutradara: Iksan Lahardi.
4. Mana Tahan (1979),
Sutradara: Nawi Ismail.
3. Pintar-Pintar Bodoh
(1980), Sutradara: Arizal.
2. Dongkrak Antik (1982),
Sutradara: Arizal.
1. Gengsi Dong (1980),
Sutradara: Nawi Ismail.

Dipublikasi di film era 80an, film warkop | Tag , | Meninggalkan komentar

pancasila dalam berbagai bahasa di dunia

A. Pancasila versi Bahasa Indonesia
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh HikmatKebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
B. Pancasila versi Bahasa Inggris
1. Godhead is One God
2. Humanity which is Civil and Judgement
3. United Indonesia
4. Led by the populist Wisdom Wisdom In parley / Representative
5. Social Justice For All Indonesian People
C. Pancasila versi Bahasa Jerman
1. Gottheit ist ein Gott
2. Die Menschheit, die bürgerliche und einfach
3. United Indonesien
4. Angeführt von den populistischen Weisheit Weisheit parley / Vertreter
5. Soziale Gerechtigkeit für alle Menschen Indonesien
D. Pancasila versi Bahasa Italia
1. Dio. Dio è Uno
2. L’umanità che è civile e Just
3. Uniti Indonesia
4. Guidata dal populista Sapienza Sapienza In Parley / Rappresentante
5. La giustizia sociale per tutti gli uomini Indonesia
E. Pancasila versi Bahasa Prancis
1. Divinité est un Dieu unique
2. L’humanité, qui est civile et Just
3. Indonésie-Unis
4. Mené par le populiste Sagesse Sagesse En parlementer / Représentant
5. La justice sociale pourtoutes les personnes Indonésie
F. Pancasila versi BahasaJepang
1。神は神の1つです
2 。人類は、市民だけです
3 。ユナイテッドインドネシア
4 。知恵の交渉では、一般大衆の知恵が率
いる/代表
5 。すべてのインドネシア社会正義
G. Pancasila versi Bahasa Belanda
1. Godheid is een God
2. Menselijkheid die burgerlijke en Just
3. Verenigd Indonesië
4. Geleid door depopulistische Wijsheid Wijsheid In brabbelen / vertegenwoordiger
5. Sociale rechtvaardigheid voor alle Indonesiërs
H. Pancasila versi Bahasa Portugal
1. Divindade é um Deus Único
2. Humanidade, que é civil e Just
3. Unidos Indonésia
4. Liderada pelo populista Sabedoria Sabedoria Em Poly / Representante
5. A justiça social para todos os indonésios
I. Pancasila versi Bahasa Spanyol
1. Divinidad es un Dios Uno
2. La humanidad que es civil y Just
3. Indonesia Unidos
4. Dirigido por el populista Sabiduría Sabiduría En Parley / Representante
5. La justicia social para todos los indonesios
J. Pancasila versi Bahasa Vietnam
1. Godhead làmột Thiên Chúa
2. Nhân loại là dân sự và Chỉ cần
3. HoaKỳ Indonesia
4. Do populist Wisdom Wisdom Trong parley / Người đại diện
5.Bằng xã hội cho tất cả các Indonesians
K. Pancasila versi Bahasa Turki
1. Allah bir tekTanrıdır
2. İnsanlığa olan ve sadece İnşaat ise
3. Büyük Endonezya
4. Bu popülist Hikmet Hikmetbarış içinde liderliğindeki / Temsilci
5. Tüm Indonesians için Sosyal adalet
L. Pancasila versi Bahasa Yunani
1.Θεότης είναι ένας Θεός
2.Ανθρωπότητα που είναι ατομικά και Απλά
3.Ηνωμένο Ινδονησία
4. Με επικεφαλής τη λαϊκίστικη Σοφία σοφία διαπραγματεύομαι / Αντιπρόσωπος
5.Η κοινωνική δικαιοσύνη για όλους τους Ινδονήσιους
M. Pancasila versi Bahasa Korea
1.하나는 하나님 께서
2. 인류는 단지 남북입니다
3. 유나이티드 인도네시아
4. the 포퓰리즘이 이끄는 지혜 지혜를 말하다 있음 / 대표
5. 인도네시아에 대한 모든 사회 정의
N. Pancasila versi Bahasa
Hindi
1.देवत्व एक भगवान है
2. जो मानवता और बस नागरिक है
3.संयुक्त इंडोनेशिया
4. इस लोकलुभावन बुद्धि बुद्धि बातचीत में के नेतृत्व में/ प्रतिनिधि
5. सभी Indonesians के लिए सामाजिक न्याय

Dipublikasi di dasar negara versi bahasa inggris, pancasila dalam berbagai versi bahasa | Tag | 7 Komentar

cerita landorundun

Menurut
penuturan
lisan
orang
Toraja
khususnya
bagi
para
bangsawan
khususnya di Kecamatan
Sa’dan Balusu’ dan Sesean
bahwa Londorundun
yang bergelar “Datu
Manili”, adalah seorang
putri yang cantik jelita
yang memiliki rambut
panjang dengan ukuran
17 depah 300 jengkal atau
dalam Bahasa Toraja
“Sang pitu da’panna,
Talluratu’ Dangkananna”.
Gadis jelita ini dipersunting
olehseorang raja dari
Kabupaten Bone yang
bernama “Datu
Bendurana”.
Bukti sejarahnya adalah
sebuah buku besar yang
modelnya persis dengan
sebuah kapal dikawal oleh
dua batu kecil yang
modelnya seperti perahu
berada di Sungai Sa’dan di
desa Malango’ (Rantepao)
sebelah kanan jembatan
Malango’ yang menurut
cerita leluhur secara
turun-temurun adalah
kapal milik Datu
Bendurana yang datang
mencari dan menyelidiki
Datu Manili (Londorundun)
.Mereka dipertemukan
dalam jodoh dan oleh
sebab itu orang Bone tidak
bolehberselisih dengan
orang Toraja, karena
mereka mempunyai
“Basse” atau “Perjanjian”.
Salah satu saudara
kandung Londorundun
adalah “Puang Bualolo”
kawin ke wilayah Sa’dan,
dan menjadi leluhur
pemilik Museum
Londorundun yang
terletak di Desa
Tallunglipu, kompleks
Bolu-Rantepao.

Dipublikasi di cerita dari toraja | Tag , , | 5 Komentar

cerita laki padada

Lakipadada, adalah
bangsawan toraja yang
jadi paranoid terhadap
maut, sehingga berusaha
mencari mustika tang
mate supaya dia bisa
hidup kekal, tanpa dihantui
kematian (mirip cerita Nabi
Sulaiman). Lakipadada
didalam legenda itu
diceritakan kehilangan
orang2 tersayangnya, ibu,
saudara perempuan,
saudara laki-laki, bahkan
pengawal dan hamba2nya
satu demi satu meninggal
dunia. Kemudian
Lakipadada menjadi
paranoid, berusaha
menegasikan
kemungkinan kematian
juga datang padanya.
Pergilah dia mengembara
dengan tedong bonga nya
mencari mustika tang
mate yang bisa
mengekalkan
kehidupannya,
diantaranya mengarungi
ke teluk bone dengan
buaya sakti (yang barter
service dengan imbalan
tedong bonga), mencari
Pulau Maniang, tempat
yang dianggapnya dihuni
oleh seorang kakek tua
sakti berambut dan
jenggot putih yang
diceritakan memiliki
mustika itu.
Karena kekurang
sabarannya, Lakipadada
gagal memenuhi
persyaratan yang diajak si
tua sakti; puasa makan
minum dan tidur selama
tujuh hari tujuh malam.
Akhirnya gagal usahanya
mendapatkan tang mate.
Tapi dari sini Lakipadada
mendapat hikmah yang
menyadarkannya bahwa
menghindari kematian
sama halnya dengan
menantang kuasa Tuhan.
Tidak ada yang bisa
melawan takdir Tuhan,
walau kadang kejam kata
Dessy Ratnasari.
Lakipadada, kemudian
mengembara lagi dengan
menumpang
bergelantungan di cakar
burung Garuda yang
membawanya ke negeri
Gowa. Disana Lakipadada,
yang sudah tercerahkan,
menyebarkan hikmah
kebajikan dan berhasil
mendapat simpari Raja,
mengobati dan
membantu permaisuri
raja melahirkan.
Lakipadada diangkat
menjadi
anak angkat dan Putra
Mahkota.
Diakhir cerita diceritakan
Lakipadada yang
memperistri bangsawan
Gowa, kemudian diangkat
menjadi raja Gowa,
penguasa baru yang bijak.
Dia memiliki tiga orang
anak, yang kemudian
menjadi penerusnya dan
mengembangkan
kerajaan-kerajaan lain di
jazirah sulawesi. Putra
sulung, Patta La Merang
menggantinya di tahta
Gowa. Putra kedua,
Patta La Baritan ditugaskan
ke Sangalla, Toraja dan
menjadi raja disana. Putra
bungsu, Patta La Bunga,
menjadi raja di Luwu.
Akulturasi damai.
Lakipadada yang berasal
dari Toraja berdamai
dengan tiga suku lain;
belajar hikmah dari Bugis/
Bajo (kakek sakti di pulau
Maniang), menjadi raja di
pusat budaya Makassar,
dan mengirim anaknya
menjadi Datu di Luwu.
Akulturasi ini lah yang
mengabadikan darah dan
silsilahnya, juga cerita
legenda yang
mengantarkannya pada
kita saat ini, mungkin
inilah mustika

Dipublikasi di cerita dari toraja, legenda dari makale | Tag | Meninggalkan komentar